Safety In Everywhere...Safety Harus Hadir Dimana Dan Kapan Saja
Apakah safety itu hanya untuk yang bekerja di sebuah pabrik atau kantor saja?
Jawaban singkat nan padat dari kata tanya yang sejenis dengan itu adalah "Tidak!"
Kapanpun dan dimanapun kita berada, tidak peduli apakah kita sedang bekerja atau sedang bersantai penuh canda ria, bersenang-senang bersama para kolega, yang namanya resiko akan selalu ada.
Tentu masih ingat kejadian-kejadian tragis bahkan juga yang konyol yang diberitakan di media baik itu koran cetak, koran online ataupun media sosial beberapa waktu yang lalu.
Tentang tertabraknya beberapa orang yang sedang menunggu angkutan umum di sebuah halte. Atau mereka yang sedang asik bersantap di warung tenda pinggir jalan. Lalu sebuah kendaraan yang melaju kencang lepas kendali meluncur menuju ke arah mereka yang sedang asik dengan semua aktifitasnya itu. Kedua kejadian itu menelan beberapa korban terluka parah karenanya.
Yang berikut ini mungkin terkategori konyol. Yaitu tentang sekelompok anak muda yang wisata dan selfi di sebuah sungai dangkal yang dasarnya tanah berbatu. Mereka berada diujung sungai, sebuah tebing terakhir sebelum air sungai itu jatuh ke kedalaman lembah di bawah sana. Mereka tidak segera pindah tempat meski ada indikasi airnya sedang pasang, karena tergoda dan keasyikan mengabadikan moment dramatis bertambahnya arus air itu. Lalu yang terjadi, arus air yang datang sudah kelewat deras ketika usaha untuk beranjak pergi dari tempatnya semula sedang mereka lakukan. Derasnya air ikut mengikis tanah dan bebatuan tempat mereka berpijakan, lalu menyeret mereka...dan raib. Sekitar 3 atau 4 remaja terjun bebas bersama arus air itu ke kedalaman lembah diujung sana.
Atau tentang yang satu ini, ironis memang. Betapa tidak?!. Ketika sepasang insan yang sedang bercinta (ups!) bisa mengalami sebuah accident! Cederanya Mr. P ketika kegiatan yang semestinya penuh dengan kegembiraan dan suka ria itu berakhir pilu. (Kalau yang ini biar sexolog aja yang njelasin...ya masak dentist...eh tapi emangnya ngapain aja sih kok bisa gitu? Husss!!! hahaha)
Ada yang seringkali membuat kita lengah dan hilang kewaspadaan yaitu ketika kita berwisata. Ini yang mesti kita waspadai benar. Jangan sampai terlupakan untuk melakukan assessment singkat ketika berada disana. Apakah tempat yang kita kunjungi ini memberikan keamanan dan keselamatan kepada para pengunjungnya dengan misalnya menyediakan team rescue jika ada incident. Atau menyediakan papan peringatan yang mudah dilihat dan dimengerti para pengunjungnya.
Seperti beberapa waktu lalu alumni SMA saya, SMAN Slahung - Ponorogo mengadakan reuni wisata alam ke kawasan Batu, Malang - Jawa Timur. Disana ada beberapa bangunan rumah pohon pinus yang bisa dinaiki beberapa orang sekaligus. Pengelola tempat wisata itu sudah memberikan tanda peringatan tentang jumlah yang diperbolehkan. Nah kita mesti patuh pada peringatan itu karena tentu jumlah berapanya sudah dihitung dengan mempertimbangkan kekuatan bangunan untuk menopang bobot yang ada di atasnya.
Dari foto di atas ada risk assessment yang bisa kita sampaikan ke pengelola, akan lebih safe jika pagar sekelilingnya dibuat lebih tinggi agar resiko jatuh dari ketinggian -falling from the height- bisa dihindari.
Mencermati contoh kasus-kasus di atas itu maka hal yang sangat penting untuk terus diingat adalah kemampuan kita dalam menilai dan menakar resiko. Kemampuan memprediksi apa kira-kira yang mungkin bisa terjadi ketika kita melakukan sesuatu. Memang tidak mudah tetapi bisa kita lakukan. Saya yakin itu. Tinggal persoalannya ada pada kemauan kita untuk meluangkan waktu barang semenit dua menit untuk melakukan assessment seperlunya.
Contoh ringan tentang safety di rumah, misalnya sekaitan dengan penggunaan tabung gas LPG. Perlu kita perhatikan tata letak dari tabung gas itu. Perlu memperhatikan ventilasinya, sehingga jika suatu waktu, by anyhow terjadi kebocoran gas maka gas bisa langsung terbawa angin keluar rumah bukan malah mengeram diseluruh sudut rumah. Atau ketika kita mengganti tabung LPG kosong dengan yang baru, pastikan bahwa karet seal-nya masih dalam kondisi baik atau ganti saja dengan yang baru. Berapa menit kira-kira waktu yang diperlukan untuk keperluan itu? Masih lamaan ber-gadget ria khan?
Salah satu contoh lagi yang sangat bagus dari hasil menilai dan menakar resiko atau biasa disebut risk assessment itu adalah apa yang dilakukan para pehobi bersepeda gunung.
Kawan saya, sebut saja Mas Happy yang dentist UNEJ dan Mas Tri Carik yang hobi banget bertualang dengan sepedanya itu, mereka selalu melengkapi dengan semua peralatan pendukungnya. Helmet, sarung tangan, kacamata, baju dan celana tahan gores, sepatu, bahkan terkadang juga decker lutut dan siku serta asesoris lainnya. Jangan pernah mengira itu untuk gaya-gaya-an ya! (Meski kadang iya juga siihh...biar kalo difoto keren hehehe)
Bukan, sama sekali bukan. Itu semua untuk safety. Apalagi jika adventure nya ke perbukitan yang lengkap dengan tanjakan dan turunan tajam berkelok. Akan terlihat konyol, bodoh dan ngawur jika tanpa peralatan itu semua.
Nah, menjadi lebih jelas saya kira bahwa cakupan perhatian pada safety itu harus ada di setiap waktu dan segala situasi serta tempat dimana kita berada. Kita straight patuh terhadap safety ketika berada di tempat kerja tapi lalai ketika berada di rumah atau di tempat lain, semuanya menjadi nonsense. Percuma saja bicara safety sampai berbuih-busa tetapi kita masih beroleh celaka ketika di luar jam kerja lantaran keteledoran kita sendiri .
Pesan penutup, tetaplah membawa serta perilaku aman kapanpun dan dimanapun kita berada.
Safety has to be brought whenever and whereever you go regardless whatever you do
Jawaban singkat nan padat dari kata tanya yang sejenis dengan itu adalah "Tidak!"
Kapanpun dan dimanapun kita berada, tidak peduli apakah kita sedang bekerja atau sedang bersantai penuh canda ria, bersenang-senang bersama para kolega, yang namanya resiko akan selalu ada.
Tentu masih ingat kejadian-kejadian tragis bahkan juga yang konyol yang diberitakan di media baik itu koran cetak, koran online ataupun media sosial beberapa waktu yang lalu.
Tentang tertabraknya beberapa orang yang sedang menunggu angkutan umum di sebuah halte. Atau mereka yang sedang asik bersantap di warung tenda pinggir jalan. Lalu sebuah kendaraan yang melaju kencang lepas kendali meluncur menuju ke arah mereka yang sedang asik dengan semua aktifitasnya itu. Kedua kejadian itu menelan beberapa korban terluka parah karenanya.
Yang berikut ini mungkin terkategori konyol. Yaitu tentang sekelompok anak muda yang wisata dan selfi di sebuah sungai dangkal yang dasarnya tanah berbatu. Mereka berada diujung sungai, sebuah tebing terakhir sebelum air sungai itu jatuh ke kedalaman lembah di bawah sana. Mereka tidak segera pindah tempat meski ada indikasi airnya sedang pasang, karena tergoda dan keasyikan mengabadikan moment dramatis bertambahnya arus air itu. Lalu yang terjadi, arus air yang datang sudah kelewat deras ketika usaha untuk beranjak pergi dari tempatnya semula sedang mereka lakukan. Derasnya air ikut mengikis tanah dan bebatuan tempat mereka berpijakan, lalu menyeret mereka...dan raib. Sekitar 3 atau 4 remaja terjun bebas bersama arus air itu ke kedalaman lembah diujung sana.
Atau tentang yang satu ini, ironis memang. Betapa tidak?!. Ketika sepasang insan yang sedang bercinta (ups!) bisa mengalami sebuah accident! Cederanya Mr. P ketika kegiatan yang semestinya penuh dengan kegembiraan dan suka ria itu berakhir pilu. (Kalau yang ini biar sexolog aja yang njelasin...ya masak dentist...eh tapi emangnya ngapain aja sih kok bisa gitu? Husss!!! hahaha)
Ada yang seringkali membuat kita lengah dan hilang kewaspadaan yaitu ketika kita berwisata. Ini yang mesti kita waspadai benar. Jangan sampai terlupakan untuk melakukan assessment singkat ketika berada disana. Apakah tempat yang kita kunjungi ini memberikan keamanan dan keselamatan kepada para pengunjungnya dengan misalnya menyediakan team rescue jika ada incident. Atau menyediakan papan peringatan yang mudah dilihat dan dimengerti para pengunjungnya.
Seperti beberapa waktu lalu alumni SMA saya, SMAN Slahung - Ponorogo mengadakan reuni wisata alam ke kawasan Batu, Malang - Jawa Timur. Disana ada beberapa bangunan rumah pohon pinus yang bisa dinaiki beberapa orang sekaligus. Pengelola tempat wisata itu sudah memberikan tanda peringatan tentang jumlah yang diperbolehkan. Nah kita mesti patuh pada peringatan itu karena tentu jumlah berapanya sudah dihitung dengan mempertimbangkan kekuatan bangunan untuk menopang bobot yang ada di atasnya.
Rekan alumni dan mantan pengajar SMAN Slahung di Wisata Alam Batu Malang - Jawa Timur
Dari foto di atas ada risk assessment yang bisa kita sampaikan ke pengelola, akan lebih safe jika pagar sekelilingnya dibuat lebih tinggi agar resiko jatuh dari ketinggian -falling from the height- bisa dihindari.
Mencermati contoh kasus-kasus di atas itu maka hal yang sangat penting untuk terus diingat adalah kemampuan kita dalam menilai dan menakar resiko. Kemampuan memprediksi apa kira-kira yang mungkin bisa terjadi ketika kita melakukan sesuatu. Memang tidak mudah tetapi bisa kita lakukan. Saya yakin itu. Tinggal persoalannya ada pada kemauan kita untuk meluangkan waktu barang semenit dua menit untuk melakukan assessment seperlunya.
Contoh ringan tentang safety di rumah, misalnya sekaitan dengan penggunaan tabung gas LPG. Perlu kita perhatikan tata letak dari tabung gas itu. Perlu memperhatikan ventilasinya, sehingga jika suatu waktu, by anyhow terjadi kebocoran gas maka gas bisa langsung terbawa angin keluar rumah bukan malah mengeram diseluruh sudut rumah. Atau ketika kita mengganti tabung LPG kosong dengan yang baru, pastikan bahwa karet seal-nya masih dalam kondisi baik atau ganti saja dengan yang baru. Berapa menit kira-kira waktu yang diperlukan untuk keperluan itu? Masih lamaan ber-gadget ria khan?
Salah satu contoh lagi yang sangat bagus dari hasil menilai dan menakar resiko atau biasa disebut risk assessment itu adalah apa yang dilakukan para pehobi bersepeda gunung.
Kawan saya, sebut saja Mas Happy yang dentist UNEJ dan Mas Tri Carik yang hobi banget bertualang dengan sepedanya itu, mereka selalu melengkapi dengan semua peralatan pendukungnya. Helmet, sarung tangan, kacamata, baju dan celana tahan gores, sepatu, bahkan terkadang juga decker lutut dan siku serta asesoris lainnya. Jangan pernah mengira itu untuk gaya-gaya-an ya! (Meski kadang iya juga siihh...biar kalo difoto keren hehehe)
Bukan, sama sekali bukan. Itu semua untuk safety. Apalagi jika adventure nya ke perbukitan yang lengkap dengan tanjakan dan turunan tajam berkelok. Akan terlihat konyol, bodoh dan ngawur jika tanpa peralatan itu semua.
Mas Tri Carik in action dengan sepedanya. Lihat kelengkapannya!
Nah, menjadi lebih jelas saya kira bahwa cakupan perhatian pada safety itu harus ada di setiap waktu dan segala situasi serta tempat dimana kita berada. Kita straight patuh terhadap safety ketika berada di tempat kerja tapi lalai ketika berada di rumah atau di tempat lain, semuanya menjadi nonsense. Percuma saja bicara safety sampai berbuih-busa tetapi kita masih beroleh celaka ketika di luar jam kerja lantaran keteledoran kita sendiri .
Pesan penutup, tetaplah membawa serta perilaku aman kapanpun dan dimanapun kita berada.
Safety has to be brought whenever and whereever you go regardless whatever you do


Komentar
Posting Komentar